Tuhan kamu itu siapa ?
Selama berabad – abad kami mencari jawab atas pertanyaan itu.
Kamu diterima, diyakini, dipercayai.
Ada sisi saat manusia hidup damai karena keberadaanmu
Ada pula sisi saat manusia saling berbunuh demi membelamu
Kengerian dan kekejian terus terjadi
KeberadaanMu semakin menuntut korban
Ah, Tuhan lebih baik, kamu mati saja
Ketika menyaksikan beberapa kasus perseteruan dengan berbasis agama, saya kembali ingat dengan puisi ini. Akhir dari puisi ini sepertinya kasar, tapi sejarah membuktikan banyak hal terjadi atas nama Tuhan Yang Maha Esa. KeagunganNya dijadikan alasan untuk melakukan apa pun, baik atau buruk. Dialah menjadi tempat pembenaran perbuatan manusia karena setiap perbuatan akan mendapatkan upah darinya, dosa atau pahala.
Ada beberapa pihak yang kesal, termasuk dengan saya melihat masalah tersebut. Nama Tuhan yang sangat rendah seperti menjadi keset kotor atas dosa. Nama Tuhan hanya jadi koin – koin emas untuk membeli surga. Mungkin kalau ada yang mata uangnya, manusia akan mengambarkan dengan gambar Tuhan.
Dalam kajian apa pun Tuhan takkan pernah bisa mati, tapi dalam puisi ini Tuhan telah mati dibunuh pikiran pemeluknya. Ketika seseorang membunuh atas nama Tuhan, ketika itu pula ia membunuh Tuhan yang ada dalam pikirannya. Manusia yang dibunuh memang bukan Tuhan, tapi ia telah membunuh kehadiran Tuhan sebagai penguasa hidup. Manusia bukanlah pengadil yang seadil – adilnya atas manusia lain. Ia hanya mencoba berusaha menjadi adil. Ia kadang benar tapi juga sesat pikir.
Bukankah manusia itu Homo sapiens, binatang berpikir. Kalau sesat pikir kenapa kita pakai kekerasan. Yang tersesat adalah pikiran kita, bukan golok yang salah menebas, pistol yang salah menembak, atau korek yang salah membakar. Sesat pikir binatang berpikir, kenapa tak diluruskan dengan berpikir juga. Apakah kita telah menghapus kata berpikir itu, sehingga kita hanyalah binatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar