sepenggal kisah anak jalanan

Minggu, 04 September 2011

sebuah jeritan untuk seindah pengharapan pemimpin

Ketika maghrib menjelang. Disana! Di dekat Traffic Light, anak-anak kecil berkeliaran. Dengan tubuh bau, kumal dan dekil berlari dan menaiki bus-bu kota, oplet-oplet mini, memainkan sebuah lagu yang mereka sendiri tidak tahu apa maknanya. Berharap ada orang yang memberinya uang walaupun Cuma Rp. 100,-
Anak-anak jalanan atau anak-anak pinggiran merupakan bayang-bayang gelap yang terus berkelebat menyayat batin. Mereka sering dianggap rumput, lumut bahkan benalu yang menjalar liar di jalan-jalan raya budaya kehidupan kita.
Dalam kenyataan hidup ini cukup kuat direkam dan dilukiskan deformasi jiwa manusia kota. Baik dalam psike individual maupun dalam lembaga-lembaga keluarga, masyarakat, negara yang serba gundah dan terpecah. Anak-anak jalanan itu adalah para terlindas yang melawan deformasi jiwa yang membuat manusia menjadi hewan-hewan brutal yang dilahirkan oleh sistem kebudayaan kota.
Kisah anak pinggiran adalah sebuah cermin retak tentang sebuah paradoks zaman. Disatu pihak ada kesewenang-wenangan yang brutal, kejam dan telanjang tanpa malu. Kisah anak pinggiran adalah kisah kaum kecil. Kaum yang dengan keyakinan tipis menyerukan protes untuk didengarkan oleh kaum dewasa dan berkuasa. Dan karena itu jeritan protesnya bagai hewan terluka, mengaum sampai di ujung kematian. Semangat mereka adalah semangat melawan stigma, nujum dan nasib meskipun ternyata kalah.
Mereka kalah oleh apa yang oleh orang Yunani disebut “DIKE” (Rancangan Takdir). Memang orang kecil adalah orang yang pada akhirnya terlalu sering kalah. Adakah karena adagium hukum alam itu kini tengah berlaku kembali? Sebagaimana pernah dibisikkan oleh “JEAN PAUL SARTRE (1905-1980), eksistensialis Perancis, “When The Rich War, It’s The Poor Who Die” (Apabila yang kaya mengobarkan perang, maka yang bakal mati adalah kaum miskin).
Segalanya telah dihimpun dan dipertaruhkan. Memang mereka kalah, meradang, luka bahkan mati tapi kini mereka tidak lagi membisu. Namun adakah pengalaman anak jalanan itu dapat jadi jarum-jarum kecil penunjuk kemana arah “PEMBANGUNAN” bangsa ini tengah “DIGELANDANG PAKSAKAN” oleh para pemegang tampuk “KEKUASAAN !!!”.

Tuhan terasa mati oleh ulah umatnya


Tuhan kamu itu siapa ?
Selama berabad – abad kami mencari jawab atas pertanyaan itu.
Kamu diterima, diyakini, dipercayai.
Ada sisi saat manusia hidup damai karena keberadaanmu
Ada pula sisi saat manusia saling berbunuh demi membelamu
Kengerian dan kekejian terus terjadi
KeberadaanMu semakin menuntut korban
Ah, Tuhan lebih baik, kamu mati saja

Ketika menyaksikan beberapa kasus perseteruan dengan berbasis agama, saya kembali ingat dengan puisi ini. Akhir dari puisi ini sepertinya kasar, tapi sejarah membuktikan banyak hal terjadi atas nama Tuhan Yang Maha Esa. KeagunganNya dijadikan alasan untuk melakukan apa pun, baik atau buruk. Dialah menjadi tempat pembenaran perbuatan manusia karena setiap perbuatan akan mendapatkan upah darinya, dosa atau pahala.
Ada beberapa pihak yang kesal, termasuk dengan saya melihat masalah tersebut. Nama Tuhan yang sangat rendah seperti menjadi keset kotor atas dosa. Nama Tuhan hanya jadi koin – koin emas untuk membeli surga. Mungkin kalau ada yang mata uangnya, manusia akan mengambarkan dengan gambar Tuhan.

Dalam kajian apa pun Tuhan takkan pernah bisa mati, tapi dalam puisi ini Tuhan telah mati dibunuh pikiran pemeluknya. Ketika seseorang membunuh atas nama Tuhan, ketika itu pula ia membunuh Tuhan yang ada dalam pikirannya. Manusia yang dibunuh memang bukan Tuhan, tapi ia telah membunuh kehadiran Tuhan sebagai penguasa hidup. Manusia bukanlah pengadil yang seadil – adilnya atas manusia lain. Ia hanya mencoba berusaha menjadi adil. Ia kadang benar tapi juga sesat pikir.

Bukankah manusia itu Homo sapiens, binatang berpikir. Kalau sesat pikir kenapa kita pakai kekerasan. Yang tersesat adalah pikiran kita, bukan golok yang salah menebas, pistol yang salah menembak, atau korek yang salah membakar. Sesat pikir binatang berpikir, kenapa tak diluruskan dengan berpikir juga. Apakah kita telah menghapus kata berpikir itu, sehingga kita hanyalah binatang.

Minggu, 28 Agustus 2011

makna kehidupan

Berapa umur anda saat ini?
20 tahun, 30tahun, 40tahun atau bahkan 5 tahun…
Berapa lama anda telah melalui kehidupan anda?
Berapa lama lagi sisa waktu anda untuk menjalani kehidupan?
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan. Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita membantu kepada sesama.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa .. Kehidupan adalah … dll.

Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani.
Berapa tahun anda telah melalui kehidupan anda ?
Berapa tahun anda telah menjalani kehidupan rutinitas anda ?

Pandanglah di sekeliling kita…ada segelintir orang yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesamanya
Bersyukurlah pada-NYA setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah.
Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.

kisah anak jalanan

KISAH ANAK JALANAN

Kehidupan bebas di jalanan membuat anak-anak yang menetap di sana hancur. Kerasnya kehidupan di jalan merusak masa depan mereka. Apa pantas seorang anak berusia di bawah 15 tahun hidup di jalan ? Mereka harus menghidupi keluarga dengan mengamen, mengemis, memulung sampah, dll. Mereka tidak bersekolah, yang mereka tahu hanyalah kerasnya kehidupan di jalan. Hal itu memaksa mereka untuk masuk ke dalamnya.

Alcohol&Drugs 
Myspace Comments
MyNiceSpace.com
Sering kita temui di tempat-tempat umum (terminal, stasiun, pasar, dll) anak-anak mencari uang dengan bermacam-macam cara. Namun di sela-sela pekerjaan mereka, terkadang mereka mencoba hal-hal yang mereka sendiri tidak sadar bahwa hal itu dapat menjerumuskan mereka ke jurang NARKOBA.
Ngelem adalah salah satu kegiatan yang mereka lakukan di waktu luang. Ngelem adalah menghirup aroma lem Aica Aibon. Lem ini termasuk bahan adiktif sehingga dapat mengakibatkan ketergantungan.
Saat menemui salah satu pecandu sebut saja Wanto, dia mengemukakan bahwa alasan mereka menggunakan lem Aica Aibon adalah karena himpitan ekonomi. Dana yang minim membuat mereka beralih dari pil koplo/putaw ke Lem Aica Aibon.

“Awalnya aku dikasih teman putaw, lalu aku ketagihan. Saat sakaw, aku tidak peduli bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan putaw. Hingga aku tak segan untuk mencuri agar aku bisa membeli putaw.” Ujar Wanto.
Kemudian suatu hari temanku mengajak untuk menghirup lem Aica Aibon. Awalnya aku ga’ peduli. Tetapi lama kelamaan kayaknya enak juga. Akhirnya aku coba deh….” tambah Wanto.
Sampai sekarang mereka masih mengonsumsinya. Menurut mereka, ngelem lebih murah daripada memakai putaw.
“1 kaleng lem Aibon harganya sekitar Rp 7.000. Aku biasanya patungan sama temen-temen. Biasanya satu anak dimintai Rp 1.000 – Rp 2.000, hasilnya dibelikan lem setelah itu dibagi-bagi.” Jelasnya.
Ya, jelas mereka lebih memilih untuk ngelem ketimbang menggunakan pil koplo / putaw. 1 butir pil koplo aja harganya sekitar Rp 10.000 dibandingkan dengan 1 kaleng lem Aica Aibon yang harganya Rp 7.000. Saat ditanya tentang keuntungan ngelem, mereka cuma bisa cengar-cengir aja.
“He…he…he…ya, cuma buat seneng-seneng aja mbak…” Jawab salah satu dari mereka.
Dampak dari ngelem sendiri itu bahaya sekali lho…
“Kadang aku sampai pingsan terus ga’ jarang juga aku mimisan, tetapi tidak apa-apa yang penting senang.” Ujar Wanto sambil asyik ngelem.
Di sana saya juga menemui anak berusia di bawah 10 tahun sedang ngelem bersama teman-temannya. Aduh, padahal dari penjelasan Wanto tadi, kita bisa menyimpulkan bahwa hal itu berdampak buruk bagi kesehatan terutama paru-paru dan syaraf otak. Eeh, ini malah anak kecil sudah berani coba-coba memakai barang haram itu. Ntar kalo udah gedhe badannya hancur thu…
Kasihan mereka, kadang orang seperti mereka dijauhi dan diklaim sebagai sampah masyarakat. Padahal lingkunganlah yang mengajari mereka. Seharusnya mereka dibimbing agar tidak salah jalan, bukannya dijauhi. Mengapa kita tidak merangkul mereka, berbagi pengalaman tentang kehidupan. Mungkin sebagai anak muda bisa bergabung dengan organisasi-organisasi yang peduli akan masalah remaja seperti KISARA.
Mari galang Kesatuan Indonesia tanpa NARKOBA….

Sabtu, 27 Agustus 2011

indahnya sebuah sampah

sampah memang banyak orang menganggap sebuah hal yang tak bermanfaat dan sering menimbulkan masalah. padahal dari sampah banyak orang yang dapat mendapatkan rezeki dan tidak sedikit orang kaya karena sampah.. sampah pada dasarnya tidak berbentuk sebuah barang sisah atau barang yang tidak terpakai, akan tetapi sampah ada juga yang berbentuk seOrang atau sekumpulan Manusia, andai banyak yang tau kalau seandainya sampah yang berupa manusia juga dapat di manfaatkan seperti sampah yang berwujud barang pasti tidak akan ada yang dimanakan kaum Marjinal/orang pinggiran/"pengangguran. Andai dinegara ini tidak ada orang yang beranggapan kalau ada orang yang tidak berguna pasti sengat indah melihat ketentraman menjalani hidup ini....
Tuhan Sadarkan lhaaa hambah mu yang selalu menganggap seseorang yang mempunyai sifat meremehkan orang lain. sebuah pendapat orang tak selamanya benar. ini hanya kata - kata untuk mu yang selalu menggap remeh seseorang

Kamis, 09 Juni 2011

sepenggal kisah anak jalanan

Terdengar jelas saat keramaian datang, matahari tertutup gelapnya mendung menjelang malam rintihan hujan lebat membasahi jalanan, senyuman mereka terlihat saat berlarian di stopan dengan membawah botol minuman bekas yg di isi air sabun serta sebuah kain,tanpa memperdulikan nyawa mereka berusaha mencari sebuah makna kehidupan yg bergantung pada alam dan manusia golongan atas yg mereka anggap sebagai penolong atas jasa yg tlah mereka berikan,tiap lampu merah tiba dengan semangat mereka menghampiri tiap kendaraan roda empat,mereka semprotkan air sabun ke kaca dan membersihkannya,
Tak sebuah anak seumur mereka mampu menjalaninya.
rintihan pada saat malam paling pekat datang bukan menjadi sebuah halangan saat kendaraan dari kalangan level atasa hingga tengah berlalu lalang di jalanan, semakin keras semangat untuk mencari sebuah kebaikan yang di berikan tuhan